Indonesian Version
   
  • PROFIL
  • Tentang IDRAP
  • Layanan Kami
  • Wilayah Kerja
  • Para Mitra
  • Testimoni
  • Kontak
  • PROGRAM
  • Peningkatan Kapasitas
  • Peningkatan Pendapatan
  • Perbaikan Kesehatan
  • Pelestarian Lingkungan
  • DUKUNGAN
  • Donor
  • Donasi
  • Volunter
  • PAPAN INFO
  • Berita
  • Artikel
  • Pelatihan
  • Agenda
  • Galeri
  • Download
  • Publikasi
  • Lowongan
  • Link
  •  
         
     


    Berita Terkini:

    Informasi Pusat Gempa yang Simpang Siur: Laporan BMKG Akhirnya Sulit Dipercaya Laporan BMKG Sultra “kacau”. Episentrum gempa yang diberikan BMKG berubah-ubah, menyebabkan info...


    127 Rumah Hancur, 1.760 Warga Mengungsi Akibat gempa yang mengguncang Kendari dan sekitarnya, Senin (25/4), menimbulkan kerusakan rumah warg...


    Jati Muna Butuh Kejelasan Regulasi Kabupaten Muna yang dikenal dengan komoditas jatinya, tampaknya akan mengalami fase kebangkitan dan ...


    Benteng Keraton Buton Dikelilingi 2,7 Kilometer Tembok dengan 100 Meriam Nusantara patut berbangga karena memiliki objek wisata berupa benteng yang konon terluas di dunia. O...


    Mengenal Lebih Dekat Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Ekosistem di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) mengalami degradasi. Penurunan populasi dan ...

     
     
    IDRAP on FB

     

     

    Buton Utara Dalam Pandangan Evaluator

    Karakteristik Wilayah Project

    a. Kondisi Geografis

    Buton Utara berada di pulau Buton dengan ibukota kabupaten, secara de facto berada Ereke. Buton Utara merupakan wilayah yang baru mekar yang sebelumnya masih menjadi bagian dari kabupaten Muna. Satu-satu jalan untuk menuju kabupaten Buton Utara adalah melalui kapal laut yang bisa ditempuh dalam waktu 5-6 jam perjalanan dari ibukota propinsi Sulawesi Tenggara yaitu Kendari. Lamanya waktu perjalanan menuju Buton Utara dengan kapal laut sangat tergantung dari cuaca yaitu ombak laut. Berdasarkan kebiasaan masyarakat dalam memperhatikan siklus cuaca, ombak besar biasanya terjadi antara bulan Mei sampai bulan Agustus. Pada bulan-bulan ini merupakan waktu yang cukup membahayakan bagi kapal-kapal yang akan melintasi laut Banda menuju Buton Utara. Ombak yang besar sering mengganggu perjalanan kapal penumpang maupun nelayan untukberlabuh atau mencari ikan.Pada bulan antara Mei sampai Agustus, perjalanan dari dan menuju Buton Utara banyak mengalami kendala karena ombak laut yang besar. Kondisi ini menjadikan wilayah Buton Utara menjadi semakin terisolir karena tidak adanya mobilitas masyarakat dari dan ke pulau Buton Utara.

    b. Sarana dan Prasarana

    Terbatasnya aksesisbilitas ini terjadi tidak hanya di bidang transportasi, tetapi juga sarana dan prasarana lain seperti di bidang komunikasi, kesahatan, penerangan, pengairan, jalan yang tidak terhubung antar wilayah dan fasilitas penunjang pendidikan. Di bidang komunikasi tidak ada media yang dapat menghubungkan komunikasi antar desa dan antar masyarakat di daerah terisolir. Hanya ada satu station radio yang bisa ditangkap oleh masyarakat yaitu Radio Republik Indonesia (RRI), 2 BTS untuk komunikasi telepon seluler yaitu indosat dan telkomsel yang hanya bisa dinikmati di kota Ereke, dan 1 koran harian hanya ada di kota.

    Ada beberapa desa yang berada di pesisir yang hanya bisa dijangkau melalui perahu, tidak ada jalan darat yang bisa menghubungkan ke desa-desa pesisir tersebut. Kondisi desa-desa tersebut rata-rata tidak memiliki listrik, fasiltas air yang terbatas, tidak ada jaringan komunikasi, satu-satunya sarana komunikasi dengan masyarakat luar melaui laut yang bisa ditempuh selama berjam-jam.

    Di bidang kesehatan hanya ada satu Puskesamas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang ada di kota kabupaten, sementara di desa-desa,masalah kesehatan masyarakat hanya mengandalkan dukun desa. Paramedis seperti dokter dan bidan hanya ada di kota sedangkan di desa tenaga-tenaga medis tersebut tidak pernah dijumpai keberadaannya.

    Demikian pula untuk sarana listrik dan air, masih banyak desa-desa yang belum memiliki penerangan yang layak dari pemerintah (PLN=Perusahaan Listrik Negara), jika pun ada penerangan listrik sering mati. Sementara bagi masyarakat yang belum menggunakan listrik, mereka mengandalkan minyak, tenaga surya, accu atau sinar bulan pada malam hari. Kondisi penerangan ini secara langsung berpengaruh pada kualitas belajar anak sekolah yang kebanyakan tidak belajar di rumah karena gelap atau aktivitas produktif yang membutuhkan energy listrik.

    Fasilitas air kebanyakan diusahakan oleh masyarakat sendiri atau dengan bantuan NGO yang membantu dalam pengadaan air bersih. Dari pemerintah daerah meskipun ada kantor yang secara khusus menangani distribusi air ke masyarakat yaitu PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), namun kantor tersebut tidak beroperasi. Sampai sekarang tidak ada upaya-upaya dari pemerintah daerah dalam pengadaan air bersih bagi masyarakat.

    Di bidang pendidikan, keberadaan sekolah di desa-desa terpencil ini rata-rata hanya sampai SMP, anak-anak yang telah lulus SMP biasanya meneruskan SMU ke kota (ibukota Kabupaten Ereke). Anak-anak dari desa terpencil ini harus bersaing dengan anak-anak kota. Banyak dari mereka yang tidak lolos masuk SMU karena memang tidak ada kebijakan khusus dari sekolah terhadap anak-anak dari desa terpencil. Bagi mereka yang diterima masuk sekolah SMU di kota, anak-anak ini harus meninggalkan kampung halamannya dan tinggal dengan saudaranya yang ada di kota. Banyak dari mereka yang tidak kerasan tinggal dengan saudaranya di kota dan kembali ke desa tidak melanjutkan sekolah.

    Di kantor-kantor pemerintahan tidak banyak terlihat aktivitas pelayanan masyarakat bahkan sering kali terlihat tutup. Jika hujan turun pada pagi atau siang hari banyak pegawai pemerintahan tidak masuk kantor. Karena keterbatasan sarana prasarana dan rendahnya kinerja pelayanan masyarakat oleh pemerintah, praktis masyarakat lebih banyak mengurus dirinya sendiri dan lingkungannya. Pemerintah baru akan menyapa masyarakat ketika hendak menjelang pilkada.

    Buton Utara merupakan wilayah yang berkarang namun banyak tanaman yang tumbuh subur di pulau ini. Beragam tanaman kering yang menghasilkan buah-buahan dan sayuran banyak tumbuh di pulau ini. Di samping hasil kebun, ikan laut juga memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat baik untuk dikonsumsi maupun diperdagangkan. Kualitas ikan laut di Buton ini cukup terkenal di Sulawesi karena keberagamannya dan kesegarannya dibandingkan ikan laut dari pulau-pulau lain. Dari hasil alam yang dihasilkan oleh pulau Buton ini merefleksikan matapencaharian masyarakat yaitu petani dan nelayan. Dua jenis mata pencaharian ini dikelola masyarakat masih secara tradisional karena kebanyakan hasilnya diperuntukan untuk kebutuhan sendiri dan dipasarkan di pasar lokal. Namun demikian hasil alam ini sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari, sehingga kebutuhan terhadap pangan masyarakat di Buton Utara tidak menemui kesulitan.

    Karakteristik Masyarakat

    a. Mata Pencaharian

    Matapencaharian masyarakat sangat tergantung pada hasil bumi yaitu hasil pertanian dan laut. Pengelolaan hasil bumi ini masih dikelola secara tradisional, masyarakat belum menggunakan sistem pertanian yang memungkinkan mereka dapat mengolah lahannya lebih maksimal dan menghasilkan kualitas yang baik. Demikian pula di sektor perikanan, masyarakat nelayan masih menggunakan perahu-perahu tradisional yang mereka buat sendiri dengan bahan baku kayu dari hutan yang banyak tumbuh di Buton Utara.

    Hasil bumi di bidang pertanian dan perikanan ini lebih banyak diperuntukkan untuk kebutuhan masyarakat Buton Utara sendiri, belum banyak para petani dan nelayan yang menjual hasil usahanya ke luar wilayah Buton Utara. Sistem penjualannya pun tidak melalui rangkaian distribusi yang panjang seperti di beberapa daerah lain di indonesia. Para petani dan nelayan dapat menjual langsung hasil usahanya kepada pembeli, jika tidak habis hasil usaha ini (pertanian dan ikan) dikonsumsi sendiri oleh para petani atau nelayan untuk keluarga mereka. Demikian pula para pembeli atau konsumen banyak dijumpai mereka menunggu nelayan yang sedang menangkap ikan di pinggir dermaga pelabuhan. Para produsen (nelayan) dan konsumen bisa langsung bertransaksi di pinggir dermaga ketika para nelayan tersebut tiba di pelabuhan atau pantai dengan membawa ikan hasil tangkapan nelayan yang masih berada di atas perahu mereka.

    Pekerjaan sebagai petani dan nelayan ini merupakan pekerjaan yang dominan di masyarakat, belum banyak usaha-usaha di bidang perdagangan dan industri kecil. Aktivitas perdagangan hanya sebatas jual beli hasil bumi dan warung-warung kecil sedangkan industri kecil seperti kerajinan tidak dijumpai di Buton Utara. Meskipun jika melihat hasil bumi yang melimpah dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah industri kerajinan, masih terlihat belum ada upaya-upaya dari masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkan usaha kecil.

    b. Interaksi Sosial

    Pekerjaan bagi masyarakat Buton Utara bukanlah sekedar untuk mendapatkan uang tetapi juga sebagai sarana sosial dalam mengembangkan solidaritas sosial di antara mereka. Hal ini menjadikan tidak ada persaingan dalam pekerjaan mereka. Mereka biasa saling membantu dan tolong menolong dalam bekerja baik dalam mencari ikan maupun dalam pertanian.

    Masih sedikitnya aktivitas bisnis dan konsumsi masyarakat terhadap produk-produk perdagangan seperti yang ditawarkan di kota-kota besar di Indonesia menjadikan iklan-iklan yang menawarkan produk konsumsi masih sangat jarang dijumpai di jalan-jalan. Daerah-daerah strategis di Buton Utara masih steril dari berbagai spanduk iklan komersil, sehingga jika ada ada satu atau dua spanduk yang terpasang di pinggir jalan sangat terlihat oleh masyarakat karena keberadaannya cukup menyolok dari tatapan mata masyarakat.

    Pekerjaan yang relatif sama dalam masyarakat memungkinkan mereka bisa bekerja bersama baik di kebun maupun ke laut. Interaksi sosial di antara masyarakat relatif intens, mereka tidak membutuhkan waktu khusus untuk bersosialisasi atau berinteraksi dengan sesama warga. Komunikasi antar warga bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja selama mereka berada dalam suatu wilayah atau desa yang sama. Warga akan mengalami kesulitan jika harus melakukan komunikasi dengan warga dari desa lain karena tiadanya sarana transportasi darat dan komunikasi yang memadai. Ada beberapa warga untuk menghadiri suatu acara di rumah kerabatnya atau temannya membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke tujuan, karena mereka harus mendayung beberapa kilometer melalui jalan laut untuk menuju sebuah desa lain.

    Rumah-rumah penduduk yang sebagian besar terbuat dari kayu dan di depan rumah para pemilik rumah banyak mendirikan balai-balai tempat dimana masyarakat biasa berkumpul dan bercakap-cakap. Keberadan balai ini cukup penting bagi masyarakat sebagai sarana untuk aktivitas kumpul-kumpul atau bercakap-cakap antar warga yang bisa berlangsung pada pagi,siang, sore maupun malam di balai-balai ini. Aktivitas kumpul-kumpul dan bercakap-cakap di balai-balai yang berada di depan setiap rumah warga ini ternyata juga menjadi sarana komunikasi politik antar warga dan calon bupati pada saat menjelang dan sesudah pilkada. Secara tidak langsung keberadaan balai-balai ini telah menjadi pos-pos bagi para tim sukses untuk berkordinasi dan mempengaruhi warga dalam memilih calon bupati.

    c. Komunikasi Politik

    Komunikasi politik antara calon bupati dengan warga banyak dilakukan melalui tim sukses masing-masing calon bupati. Hanya saja komunikasi politik ini tidak memperbincangkan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan, visi misi para calon, atau sistem politik daerah, yang menjadi perbincangan masyarakat relatif tunggal yaitu yang berkaitan dengan peluang para calon bupati. Isu-isu yang berkaitan dengan infrastruktur fisik lepas dari perbincangan di masyarakat. Komunikasi politik yang dibangun oleh para tim sukses ini mendorong terjadinya deal-deal politik yang mengarah pada terjadinya money politik.

    Para tim sukses calon bupati ini sangat memanfaatkan rendahnya pemahaman politik masyarakat. Sebagai kabupaten baru yang baru pertama kali melakukan pilkada merupakan peluang bagi para calon bupati memanfaatkan lemahnya pemahaman politik masyarakat sebagai sasaran empuk untuk melakukan politik uang. Melalui para tim sukses sebagian besar calon bupati ini mengarahkan masyarakat untuk berpikir pragmatis.

    Ada dua orientasi pemilih pada pilkada di buton utara:

    • Pilihan pada ketokohan salah seorang calon. Pemilih ini memiliki kecenderungan menentukan pilihan pada salah satu calon karena  ketokohan atau latar belakang calon. Karena kefanatikan pada ketokohan calon tersebut kebanyakan dari para pemilih ini tidak begitu tertarik pada politik uang yang ditawarkan oleh tim sukses dari calon lain.
    • Pilihan Karena money politik. Pemilih ini memilih calon bupati  didasarkan pada uang yang telah diberikan oleh salah satu calon kandidat bupati. Selain uang para pemilih atau kordinator tim sukses juga dijanjikan fasiltas seperti project dan penerimaan PNS (Pagawai Negeri Sipil)  bagi anak- anaknya meskipun tetap diharuskan membayar puluhan juta rupiah.

    d. Keterisolasian Masyarakat

    Keterisolasian sebagian besar wilayah Buton Utara sebagai salah satu penyebab masyarakat tidak begitu memahami motif-motif komunikasi politik yang dilakukan oleh para calon bupati. Keterisolasian ini menyebabkan minimnya informasi dari luar desa serta informasi-informasi dari sumber-sumber berita yang kompeten. Informasi yang berkaitan dengan kondisi politik kebanyakan diperoleh dari mulut ke mulut yang rawan terjadinya manipulasi informasi. Sebagai contoh misalnya hampir semua masyarakat tidak mengetahui kebijakan apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah, dan ketidaktahuan ini tidak disadari oleh masyarakat sebagai sebuah keterbatasan mereka. Mereka sebagai masyarakat rata-rata tidak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk mengetahui berbagai kebijakan dan layanan yang seharusnya diberikan oleh pemerintah kepada rakyatnya. Hal inilah yang menyebabkan kontrol masayarakat terhadap kinerja pemerintah sangat lemah bahkan hampir tidak ada. Keterisolasian beberapa wilayah mengkondisikan para pelaku kebijakan (pemerintah) untuk bisa berbuat lebih leluasa mengatur wilayahnya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Keleluasaan mengatur pemerintahan ini bisa dilihat dari tidak diberikannya informasi kepada masyarakat mengenai Pendapatan Asli Daerah (PAD) Buton Utara, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dan juga termasuk juga berbagai peraturan daerah. Sampai saat ini masyarakat tidak mengetahui seberapa besar penerimaan pendapatan daerah dan sejauh mana penggunaannya untuk kepentingan rakyat di samping itu pula masyarakat juga tidak mengetahui produk peraturan daerah (Perda) yang telah dihasilkan yang dapat berimplikasi langsung terhadap kepentingan dan penghidupan mereka. Pemerintah kabupaten Buton Utara cenderung tertutup menginformasikan hal-hal tersebut.

     

    Sumber: IDRAP